Kelompok Perempuan Siap Jalankan Maggot Center Muba, Target Kelola 2 Ton Sampah Organik per Hari

Mushaful Imam
Plt Kepala DLH Muba, M Thabrani Rizki, CEO Yayasan CARE Peduli, Dr Abdul Wahib Situmorang dan saat melihat Maggot Center di kompleks TPA DLH Simpang B2, Kecamatan Sungai Lilin, Muba, Kamis (24/9/2026). (iNewsPalembang.id/ist)

SEKAYU, iNewsPalembang.id - Pusat Budidaya Maggot (Maggot Center) di kompleks TPA Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Simpang B2, Kelurahan Sungai Lilin Jaya, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), mulai resmi beroperasi.

Kelompok perempuan di Sungai Lilin pun sudah disiapkan untuk menjadi pengelola utama dari fasilitas Maggot Center ini. Peresmian Maggot Center yang ditarget mengelola hingga 2 ton sampah organik per hari menjadi produk bernilai ekonomi ini, dihadiri Plt Kepala DLH Muba, M Thabrani Rizki; Estate Manager PT Hindoli, Kasmer Pasaribu; CSR Manager PT Hindoli, Riska Wahyuni dan CEO Yayasan CARE Peduli, Dr Abdul Wahib Situmorang.

Menurut CEO Yayasan CARE Peduli, Dr Abdul Wahib Situmorang, pembangunan pusat budidaya maggot ini didukung pendanaan PT Hindoli, pelaksanaan dan pendampingan masyarakat oleh CARE Indonesia, serta dukungan Pemkab Muba, melalui DLH yang menempatkan kelompok perempuan sebagai penggerak usaha, dengan peran dalam pengelolaan produksi, keuangan, pemasaran, dan pengambilan keputusan.

“Kami ingin perempuan memimpin usaha ini dan memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengelolaannya. Dukungan PT Hindoli, Pemkab Muba, bersama pendampingan CARE Indonesia, menjadi fondasi untuk membangun usaha yang dapat dikelola dan dikembangkan masyarakat,” ujar dia saat memberi sambutan peresmian Maggot Center, Kamis (24/9/2026).

Abdul mengatakan, melalui budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) di fasilitas ini, sampah organik diolah menjadi maggot segar maupun kering, yang bisa dipasarkan sebagai bahan pakan ternak dan ikan. Untuk sisa penguraiannya dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik. 

Dengan asumsi, sambung dia, setiap keluarga menghasilkan sekitar 2 kilogram sampah organik per hari, target pengelolaan sampah organik di fasilitas ini setara dengan pengelolaan sampah organik dari sekitar 1.000 keluarga.

Model ini dirancang dengan biaya operasional terjangkau dan membuka pekerjaan di sepanjang rantai usaha, dari pengumpulan dan pemilahan sampah hingga budidaya, pengolahan, dan pemasaran. 

"Penjualan maggot dan pupuk organik diharapkan dapat mendukung biaya operasional serta pendapatan pengelola. Manfaatnya juga bisa dirasakan peternak, pembudidaya ikan, dan petani di sekitar Sungai Lilin,” kata dia.

Abdul mengungkapkan, bahwa kelompok perempuan bersama warga sekitar akan menjadi fokus dalam rangkaian penguatan kapasitas tim pengelola Maggot Center. Pelatihannya mencakup siklus budidaya, pengoperasian sarana produksi, keselamatan kerja, pencatatan keuangan, dan pemasaran. 

"Pendampingan yang dilakukan CARE Indonesia diarahkan agar pengelola mampu menjaga mutu produk, membangun hubungan dengan pembeli, dan mengembangkan usaha secara mandiri," ungkap dia.

Terkait bangunan Maggot Center ini, jelas Abdul, berdiri di atas lahan berukuran 20 × 10 meter dan dilengkapi 53 bak pembesaran larva, fasilitas pembibitan, peralatan pengolahan sampah, panel surya, sarana air dan sanitasi, serta perlengkapan keselamatan kerja. Fasilitas itu disiapkan untuk mendukung kegiatan produksi dan pembelajaran bagi pengelola.

“Pengembangan selanjutnya, potensi kredit karbon dari pengurangan emisi pengelolaan sampah organik dapat dikaji. Peluang kredit biodiversitas juga dapat dijajaki l, bila usaha ini terhubung dengan pemulihan ekosistem yang memberi manfaat keanekaragaman hayati yang terukur dan terverifikasi. Keduanya masih memerlukan kajian kelayakan dan pemenuhan standar yang relevan,” jelas dia.

Sementara, Plt Kepala DLH Muba, M Thabrani Rizki menuturkan, kolaborasi pembangunan Maggot Center ini bisa membantu menjawab persoalan sampah di Sungai Lilin, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Karena, sampah di Kecamatan Sungai Lilin ini bisa mencapai sekitar 20 ton per hari, termasuk sampah dari SPPG. 

"Fasilitas ini jadi inovasi yang sangat baik untuk mengolah sampah organik, sehingga dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Hasil dari maggot juga jadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan,” tutur dia.

Manajer CSR Cargill di Hindoli, Rizka Wahyuni melanjutkan, inisiatif kolaborasi pembangunan Maggot Center ini menunjukkan kemitraan yang kuat dapat membantu dan mengubah tantangan pengelolaan dan pemanfaatan limbah, menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Pihaknya berharap, Maggot Center dapat memperkuat partisipasi perempuan dalam mengelola usaha ramah lingkungan, mulai dari produksi hingga pemasaran. 

"Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, inisiatif ini dirancang untuk membantu usaha tersebut beroperasi secara mandiri dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan di Sungai Lilin,” tandas dia.

Editor : Sidratul Muntaha

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network