get app
inews
Aa Text
Read Next : PGK Sumsel Minta Perusahaan Pemilik Konsesi di Wilayah Rawan Karhutla Aktif Lakukan Upaya Pencegahan

Yayasan Ini Dorong Kolaborasi Perkuat Perlindungan Masyarakat dalam Penanganan Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:48 WIB
header img
Petugas Manggal Agni dan BPBD Ogan Ilir memadamkan api kebakaran lahan di Desa Ibul Besar 3, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, yang mengancam rumah warga, Sabtu (8/8/2026). Foto Ist

PALEMBANG, iNewsPalembang.id - Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia) menyebut luas dan kompleksnya situasi keberhasilan semua pihak yang telah mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bergantung pada koordinasi, pembagian peran, dan kontribusi yang saling melengkapi.

Meski begitu, CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, mengapresiasi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), BNPB, BMKG, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, tenaga kesehatan, relawan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lokal yang bekerja dalam pencegahan, pemadaman, operasi modifikasi cuaca, pelayanan kesehatan, serta perlindungan warga. 

“Keberhasilan penanganan karhutla tak hanya ditentukan seberapa cepat api bisa dikendalikan, tetapi sejauh mana warga dapat tetap aman, sehat, dan mempertahankan penghidupannya. Pengendalian api dan perlindungan warga bukan dua agenda yang terpisah; keduanya perlu berjalan bersama,” ujar dia, Senin (31/8/2026).

Abdul mengatakan, bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar. Kemenkes menyebutkan, sekitar 3,4 juta penduduk di tujuh provinsi yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan terdampak kabut asap dan menghadapi risiko gangguan kesehatan. Respon melalui pengerahan tenaga kesehatan, distribusi masker dan logistik medis, serta dukungan peralatan oksigen di wilayah terdampak telah dilakukan.

Karhutla dan kabut asap, sambung dia, tidak memengaruhi setiap orang dengan cara yang sama. Anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta warga dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis dapat menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi. Keluarga berpenghasilan harian pun bisa mengalami kehilangan pendapatan ketika aktivitas kerja, sekolah, layanan publik, dan pengasuhan terganggu.

Editor : Sidratul Muntaha

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut