Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ini Respons Bank Indonesia Terkait Fenomena Kurs Rupiah di Laman Google Diangka Rp8.170,65 per USD
Advertisement . Scroll to see content

Polisi Finlandia Ngamuk, Google Tebang Ratusan Hektare Pohon di Hutan Muhos untuk Proyek Pusat Data

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:40 WIB
  • author Syarifudin
Polisi Finlandia Ngamuk, Google Tebang Ratusan Hektare Pohon di Hutan Muhos untuk Proyek  Pusat Data
Polisi Finlandia tengah menyelidiki dugaan pelanggaran lingkungan Google yang diperkirakan telah menebang 250.000 pohon di Muhos dan 150.000 pohon lainnya di Otanmaki, dengan total mencapai 400.000 pohon. (Foto/r/antiai)

HELSINKI, iNewsPalembang.id -Dugaan pelanggaran lingkungan terhadap ratusan hektare hutan di Muhos, Finlandia bagian utara, ditebang sebelum penilaian dampak lingkungan yang diwajibkan selesai dilakukan.

Diketahui, bahwa aktivitas yang dikeluhkan tersebut dilakukan anak perusahaan lokal Google, Tuike Finland, sebagai tempat untuk pusat data Google.

Pihak Kepolisian Finlandia, Departemen Kepolisian Oulu telah mengumumkan pada Kamis (29/10/2026), bahwa mereka sedang menyelidiki dugaan kerusakan lingkungan di lokasi tersebut.

Lembaga penyiaran publik Finlandia, Yle menilai, polisi telah menerima lima permintaan untuk melakukan penyelidikan, termasuk permintaan dari Badan Pengawas Finlandia (LVV), yang bertugas mengawasi izin dan penilaian lingkungan.

Pihak penyidik menemukan kemungkinan adanya ketidakberesan dalam sistem drainase dan pengelolaan air di lokasi konstruksi itu. Selanjutnya, pihak berwenang sedang memeriksa apakah pekerjaan yang dilakukan telah melanggar undang-undang lingkungan hidup dan menyebabkan kerusakan pada saluran air di sekitarnya.

Sementara, pihak Google mengakui telah menebang sekitar 330 hektare hutan di Muhos dan hampir 200 hektare di lokasi pusat data lainnya, yang direncanakan di Kajaani, meski penilaian dampak lingkungan untuk kedua proyek itu belum rampung.

Menurut Pakar Ekologi dari Asosiasi Konservasi Alam Finlandia, Mari Annala kepada The Guardian, bahwa Google diperkirakan telah menebang 250.000 pohon di Muhos dan 150.000 pohon lainnya di Otanmaki, dengan total mencapai 400.000 pohon.

Awal bulan ini, regulator Finlandia memerintahkan perusahaan itu untuk menghentikan pekerjaan persiapan di kedua lokasi, dengan alasan kekhawatiran terkait penebangan hutan, penggalian, dan sistem drainase yang ekstensif. Lalu, pada tanggal 14 Oktober, pihak perusahaan mengonfirmasi mereka telah mematuhi perintah tersebut.

LVV juga telah memberi peringatan bahwa kegiatan penggalian dan drainase di lokasi Muhos berpotensi melepaskan air yang bersifat asam dan terkontaminasi logam, mengingat adanya endapan batu serpih hitam (black shale) di area tersebut.

Regulator telah meminta agar rencana pengelolaan air yang lebih terperinci diserahkan paling lambat tanggal 5 November.

Manajer Google untuk Finlandia, Antti Jarvinen, menyampaikan permohonan maaf awal bulan ini atas penebangan hutan yang luas tersebut, namun ia menegaskan perusahaan telah bertindak sesuai dengan pemahaman mereka terhadap hukum Finlandia.

"Saya sangat menyesal bahwa kita berada dalam situasi seperti ini," ujarnya kepada lembaga penyiaran publik Finlandia, Yle.

Jarvinen mengatakan Google telah bekerja sama dengan pihak berwenang serta para ahli, namun ia menolak untuk menyebutkan pejabat mana saja yang telah diberi tahu mengenai pembersihan lahan tersebut.

Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya penentangan terhadap pembangunan pusat data di Amerika Serikat.

Masyarakat memprotes fasilitas-fasilitas tersebut karena kebutuhan listrik dan air yang sangat besar, potensi kerusakan lingkungan, serta kenaikan biaya utilitas.

Di Virginia, ratusan pengunjuk rasa baru-baru ini menuntut penghentian proyek-proyek baru.

Sementara di Arizona, warga menentang rencana pembangunan fasilitas serupa karena kekhawatiran akan kekurangan air dan tingginya biaya listrik.

Editor: Sidratul Muntaha

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut