Kemudian, jelas Agus, hal yang berbeda dengan siaga 3, status siaga 2 diberlakukan ketika situasi mulai menunjukkan peningkatan kewaspadaan. Pada tahap ini, sekitar setengah hingga tiga perempat kekuatan prajurit dan alutsista dipersiapkan untuk menempati pos yang telah ditentukan.
Siaga 1 merupakan tingkat kesiapsiagaan tertinggi ketika eskalasi ancaman meningkat. Pada kondisi tersebut, prajurit dan alutsista telah ditempatkan di pos masing-masing dan tidak diperkenankan meninggalkan kesatrian.
"Personel dan alutsistanya sudah disiagakan dan masuk ke pos masing-masing. Tentunya personel, atau prajurit tidak boleh keluar kesatrian. Itu yang biasa dilakukan oleh internal TNI," jelas dia.
Penerapan status siaga sendiri, terang Agus, tidak ditentukan berdasarkan jangka waktu tertentu. Penyesuaian tingkat kesiapsiagaan bergantung pada perkembangan kondisi di lapangan. Jika situasi telah kembali kondusif, status siaga dapat diturunkan secara bertahap.
"Siaga itu tidak ada waktu. Jadi lihat situasi sudah kondusif, baru kita siaga 1, kita menurutkan siaga 2 dan siaga 3," terang dia.
Agus menguraikan, terhadap kemungkinan ada ancaman khusus yang melatarbelakangi pengerahan puluhan ribu prajurit ke Jakarta, kesiapsiagaan serupa diterapkan di berbagai wilayah. Langkah ini dilakukan agar pasukan dan alutsista selalu siap menghadapi potensi gangguan maupun keadaan darurat.
Selain ancaman keamanan, TNI juga memperhitungkan potensi bencana alam, terutama memasuki periode musim hujan.
"Kita selalu mengantisipasi setiap wilayah, kita berlakukan siaga tersebut supaya kesiapsiagaan personel dan alutsista tetap terjaga. Makanya kita melakukan siaga terus," tandas dia.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
