JAKARTA, iNewsPalembang.id - Imbas bencana gempa bumi yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) kemarin, korban meninggal dunia yang terdata hingga Minggu (16/8/2026) ini mencapai 51 orang dan korban luka-luka 64 orang.
Menurut Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Bencana Alam NTT, Kombes Bayu Suseno, bahwa jumlah korban meninggal terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang dan Manggarai Timur sebanyak 20 orang. Proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung sehingga data korban masih dapat berubah.
“Polri bersama TNI, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh stakeholder terus memperkuat sinergi dalam penanganan bencana. Fokus utama saat ini adalah penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta memastikan akses komunikasi dan jalur distribusi bantuan tetap berjalan,” ujar dia, Minggu (16/8/2026).
Bayu mengungkapkan, gempa bumi di NTT menyebabkan 21 rumah sakit terdampak, dengan tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat dan enam lainnya rusak ringan. Kemudian, kerusakan terjadi pada infrastruktur dasar. Pihaknya mencatat 33 titik longsor, empat titik patahan jalan, dan empat jembatan rusak.
Lalu sejumlah jalur vital ikut terdampak, termasuk ruas Ende-Bajawa dan Ende-Maumere. Akses menuju Pelabuhan Lorens Say Maumere dan SPAM Lembor Selatan juga mengalami kerusakan. Khusus di Kabupaten Manggarai Barat, sebanyak 914 bangunan mengalami kerusakan hingga Minggu dini hari.
Bayu melanjutkan, untuk mempercepat penanganan bencana, pihak Polri memobilisasi personel tambahan dalam operasi pencarian dan pertolongan. Sekitar 1.875 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, dan relawan dikerahkan. Armada helikopter juga disiapkan dari Bima menuju Labuan Bajo, untuk mendukung kebutuhan evakuasi medis, serta distribusi bantuan melalui jalur udara dan laut.
Polri turut menyalurkan ratusan paket sembako kepada warga terdampak di wilayah Nangapanda, Kabupaten Ende. Dukungan logistik juga diperkuat dengan pembentukan Pos Pendamping Nasional (Pospenas) di Labuan Bajo dan Maumere. Untuk Posko Logistik Nasional ditempatkan di Halim Perdana Kusuma untuk mendukung distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Selama tujuh hari pertama masa tanggap darurat, seluruh unsur terkait memprioritaskan pencarian dan penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pemulihan akses jalan dan komunikasi, serta penguatan koordinasi penanganan bencana.
“Fungsi kehumasan juga menjadi bagian penting dalam situasi bencana. Kami memastikan perkembangan penanganan dan langkah-langkah pemerintah dapat disampaikan secara cepat, akurat, dan berkesinambungan sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar,” ungkap dia.
Polri bersama TNI, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh stakeholder akan melanjutkan operasi terpadu di wilayah terdampak. Pendataan masyarakat yang terdampak juga dilakukan sebagai dasar penyiapan Hunian Sementara (Huntara).
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
