Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Soal Anggaran Darurat Bencana, Purbaya Pastikan Pemerintah Punya Dana Siap Pakai Rp5 Triliun
Advertisement . Scroll to see content

Pastikan Lemahnya Rupiah Tak Seperti Kondisi Krisis Moneter 1998, Purbaya: Enggak Usah Khawatir

Senin, 18 Mei 2026 | 22:27 WIB
  • author Anggie Ariesta
Pastikan Lemahnya Rupiah Tak Seperti Kondisi Krisis Moneter 1998, Purbaya: Enggak Usah Khawatir
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Anggie Ariesta).

JAKARTA, iNewsPalembang.id - Tren melemahnya nilai tukar Rupiah saat ini yang dikaitkan dengan opini pada krisis moneter tahun 1998 dibantah keras pemerintah.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, bahwa struktur dan fondasi ekonomi nasional saat ini jauh lebih kuat dan resilien dalam menghadapi guncangan eksternal.

Dia menilai, ada perbedaan fundamental pada sisi kebijakan makro dan stabilitas dalam negeri, bila dibanding dengan situasi hampir tiga dekade lalu.

"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan instability social-politic terjadi setelah setahun kita resesi," ujar dia, usai acara penyerahan alutsista di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Purbaya mengatakan, bahwa riwayat krisis tahun 1998 dipicu oleh hantaman resesi ekonomi yang sudah mendera Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Kondisi tersebut lalu memicu rentetan efek domino berupa ketidakstabilan sosial dan politik yang masif.

"Kondisi Indonesia hari ini justru sebaliknya, sangat bertolak belakang, karena roda perekonomian domestik terbukti masih mampu melakukan ekspansi dan tumbuh dengan kuat," kata dia.

Situasi positif ini, ungkap Purbaya, memberi ruang kendali yang cukup lebar bagi pemerintah untuk memulihkan indikator makro yang sempat terdampak oleh volatilitas global. Purbaya pun merespons koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang yang cukup dalam dan sempat menyentuh level 6.628 pada sesi pembukaan pagi hari ini. 

"Penurunan indeks saham itu murni dinamika teknikal akibat sentimen sesaat. Pemerintah akan tetap fokus membentengi target pertumbuhan ekonomi riil agar tidak terganggu oleh fluktuasi pasar modal," ungkap dia.

Terkait hal itu, Purbaya mengimbau, agar para pelaku pasar dan investor domestik untuk tetap tenang menghadapi koreksi ini dan justru memanfaatkannya sebagai peluang investasi.

"Teman-teman nggak usah khawatir. Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," jelas dia.

Purbaya menegaskan, bahwa sebagai instrumen penyelamatan konkret, mulai hari ini pemerintah resmi mengucurkan dana intervensi ke pasar obligasi secara signifikan.

Langkah ini dilakukan guna menstabilkan harga Surat Berharga Negara (SBN) agar investor asing tidak panik dan melakukan aksi lepas portofolio demi menghindari potensi kerugian modal (capital loss). Stabilnya pasar surat utang ini diyakini akan ikut menopang pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data pasar uang pada Senin pagi, nilai tukar Rupiah ditutup melemah tipis sebesar 33 poin atau turun 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS, jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pekan sebelumnya yang berada di level Rp17.597 per dolar AS.

Editor: Sidratul Muntaha

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut