VANCOUVER, iNewspalembang.id – Imbas dugaan insiden rasis yang dilakukan Gianluca Prestianni terhadap Vinicius Junior, membuat FIFA mengusulkan aturan baru.
Seperti diketahui, bahwa insiden itu terjadi pada leg pertama Benfica melawan Real Madrid di Estadio da Luz, ketika Vinicius Junior menuduh Prestianni melakukan pelecehan diskriminatif. Prestianni terlihat mendekati Vinicius sambil menutup mulutnya, meski dia membantah melakukan komentar rasis.
Lalu, UEFA membuka investigasi resmi, dan Jose Mourinho, pelatih Benfica, menegaskan karier Prestianni di klub bisa berakhir jika terbukti bersalah.
Usulan aturan baru tersebut diutarakan Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menindak komentar rasis yang dilakukan pemain saat pertandingan.
Infantino menyoroti praktik menutupi mulut saat berbicara di lapangan yang kerap dilakukan pemain untuk menghindari kamera. Dia menilai, kebiasaan ini sekarang menjadi masalah serius, karena memungkinkan pemain menyampaikan komentar kontroversial tanpa terdeteksi.
Pada pertemuan International Football Association Board pada Sabtu (28/2/2026) kemarin, Infantino mengusulkan pendekatan lebih intervensif, dengan sanksi tegas terhadap pemain yang menutupi mulut untuk menyembunyikan ucapannya.
“Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu, dan ini berakibat rasis, maka dia harus diusir dari lapangan. Harus ada presumption bahwa dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, jika tidak, dia tidak akan menutupi mulutnya," ujar dia, dikutip Sky Sports.
"Jika tidak punya sesuatu yang disembunyikan, jangan menutupi mulut. Sesederhana itu. Ini tindakan yang harus kita lakukan untuk serius melawan rasisme," imbuh dia.
Aturan ini, ungkap Infantino, bisa diterapkan tepat waktu untuk Piala Dunia musim panas ini, dan Kongres FIFA di Vancouver nanti menjadi momen penting untuk membahas langkah-langkah tersebut.
Berkaitan dengan aturan tersebut, Infantino pun tetap membuka kemungkinan hukuman bisa dikurangi bila pemain bersedia mengaku salah dan bertanggung jawab atas tindakannya.
“Mungkin kita juga harus memikirkan bukan hanya menghukum, tapi juga mengubah budaya, memberi kesempatan untuk meminta maaf. Kamu bisa melakukan sesuatu di saat emosi, minta maaf, dan sanksi harus berbeda untuk maju satu langkah,” ungkap dia.
Wacana dari aturan baru ini menandai langkah radikal FIFA memperketat peraturan anti-rasisme di sepak bola internasional, dan bisa mengubah cara pemain berinteraksi di lapangan, khususnya saat menghadapi situasi kontroversial.
Dengan potensi aturan baru ini, setiap tindakan menutup mulut di lapangan akan berada di bawah pengawasan ketat, dan pemain kini harus lebih berhati-hati karena konsekuensinya bisa langsung berupa kartu merah.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
