PEMALANG, iNewspalembang.id – Ada banyak cerita dibalik keberhasilan semua pihak dalam mencari, menemukan hingga mengevakuasi jasad Syafiq Ridha Ali Razan (18), yang hilang di Gunung Slamet.
Seperti diketahui, bahwa Syafiq Ridhan Ali Razan berhasil ditemukan, setelah dinyatakan hilang selama 17 hari di Gunung Slamet. Tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, Wanadri, Mapala, hingga warga setempat, yang dari awal melakukan pencarian, tetap bahu-membahu membawa jasad korban turun ke kaki gunung.
Nah dari semua relawan tersebut, Kang Maun, ranger Dipajaya asal Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, menjadi sosok pertama yang menemukan jasad Syafiq Ridhan Ali Razan.
Sebelum berhasil dievakuasi, Kang Maun menceritakan sedikit kisah yang terbilang misterius sesaat hendak menemukan posisi jasad korban. Kang Maun ditemani tiga orang tim kecilnya, melakukan pencarian mandiri dengan membawa serta Himawan, rekan korban yang selamat untuk menunjukkan titik terakhir mereka berpisah.
Menurut Kang Maun, malam sebelum jasad Syafiq ditemukan, dia mengalami kejadian yang sulit dinalar saat bermalam di puncak gunung. Di tengah kesunyian malam yang ekstrem, telinganya terusik oleh suara aneh yang berulang kali muncul.
“Saya mendengar suara seperti benda keras atau seng yang digesekkan ke dinding. Suaranya terus-menerus dan sangat mengganggu waktu istirahat kami,” ujar dia, Jumat (16/1/2026).
Seolah menjadi firasat, keesokan paginya Kang Maun bersama dua rekannya, Sukri dan Basir, memutuskan untuk mengambil jalur yang tidak biasa.
Alasan mereka, mengambil langkah dan berinisiatif menyusuri jalur ke arah bawah, keluar dari rute pendakian utama. Ternyata, keputusan untuk menyimpang dari jalur utama membuahkan hasil.
Dari kejauhan sekitar 300 hingga 500 meter, mata tajam Maun menangkap benda berwarna hitam yang mencurigakan di tengah vegetasi gunung.
“Setelah kami dekati, ternyata benda itu adalah jasad Syafiq,” kata dia.
Penemuan tersebut segera dilaporkan ke posko utama. Proses evakuasi pun berlangsung dramatis selama 27 jam karena medan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu.
Dedikasi Maun dan timnya menjadi bukti nyata sisi kemanusiaan para relawan lokal. Tanpa pamrih, mereka menembus hutan rimba dan menghadapi suhu dingin yang membekukan demi memberikan kepastian bagi keluarga korban.
Jenazah Syafiq Ridha Ali Razan telah dimakamkan di kampung halamannya di Kota Magelang, Kamis (15/1/2026) malam. Kisah suara ‘seng bergesek’ di puncak Slamet ini kini menjadi kenangan bagi Maun, sebuah isyarat alam yang menuntunnya mengakhiri pencarian panjang selama 17 hari tersebut.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
