PALEMBANG, iNEWSpalembang.id - Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Sumsel menyebut data terbaru banjir di Palembang berdasarkan sejumlah informasi terkini, mengalami peningkatan titik banjir yang signifikan.
Menurut Ketua IALI Sumsel, Sri Novi Adrianti, jumlah titik banjir pada Desember 2023 hingga Januari 2024 terdapat 113 titik banjir. Meski sempat menurun menjadi 37 titik, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap potensi tersebut.
Kawasan yang terdampak banjir, sambung dia, mulai dari wilayah Dwikora, Papera, Kamboja, Simpang Polda, Basuki Rahmat, Sekip, Angkatan 66, Kemuning, Kapten A Rivai, Seduduk Putih, Panca Usaha Seberang Ulu 1, dan Macan Lindungan mengalami genangan air yang signifikan.
“Memang, dari BMKG mencatat curah hujan yang tinggi sebagai pemicu utama banjir di Palembang, dengan intensitas hujan yang mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir,” ujar dia, Sabtu (22/3/2025).
Novi Adrianti mengatakan, ada beberapa langkah strategis pemerintah yang bisa mengatasi permasalahan banjir di Palembang, seperti revitalisasi sistem drainase, pemetaan kawasan rawan banjir dan desain lanskap sungai.
Khusus revitalisasi sistem drainase, sambung Novi, Pemkot Palembang telah menyiapkan tim khusus dan berkolaborasi dengan TNI-Polri untuk meningkatkan kapasitas drainase dan mengurangi genangan air.
Kalau untuk pemetaan kawasan rawan banjir, maka pembuatan peta kawasan rawan bencana banjir bisa membantu dalam identifikasi area kritis dan perencanaan mitigasi yang tepat.
“Nah untuk desain lanskap sungai ini melalui pendekatan arsitektur sungai yang memadukan keindahan dan fungsi, seperti mitigasi banjir, pengelolaan air hujan, dan pelestarian keanekaragaman hayati, dapat diterapkan untuk meningkatkan resiliensi kota,” kata dia.
Novi mengungkapkan, bahwa data terbaru menunjukkan titik banjir semakin meluas, sehingga strategi harus lebih adaptif dan inovatif. IALI Sumsel, sambung dia, menawarkan solusi baru kepada pemerintah, stakeholder, dan masyarakat terhadap beberapa pendekatan baru yang bisa diterapkan.
“Konsep Sponge City untuk Palembang. Konsep ini mengimplementasikan desain kota spons yang memungkinkan tanah menyerap air lebih banyak melalui fitur seperti jalan berpori, ruang hijau terhubung, dan waduk buatan,” ungkap dia.
“Berikutnya, Pilot Project Green & Blue Corridor. Dengan pembuatan jalur hijau (vegetated buffers) di sepanjang sungai untuk memperkuat daya tahan lingkungan terhadap banjir. Pengembangan jalur biru (blue corridors) yang mengintegrasikan aliran air alami dalam perencanaan kota,” imbuh dia.
Berikutnya, jelas Novi, konsep Percontohan Eco-District yang Berorientasi Air, yakni dengan mengembangkan satu kawasan di Palembang sebagai kawasan tahan banjir berbasis naturebased solutions, sebagai model yang bisa direplikasi di area lain.
“Lalu, konsep Program Komunitas untuk Resapan Air. Ini mendorong pemanfaatan taman komunitas sebagai bio-retention ponds (kolam resapan). Dengan pelibatan masyarakat dalam gerakan ‘Adopt a Rain Garden’ untuk memelihara sistem resapan alami,” jelas dia.
Sri Novi menerangkan, sebagai bidang yang berada di persimpangan antara desain, ekologi, dan infrastruktur, Arsitek Lanskap punya peran penting dalam mitigasi banjir secara umum.
Seperti perancangan tata kota yang tahan banjir, dengan mengintegrasikan lanskap alami seperti hutan kota, taman resapan, dan jalur hijau untuk menyerap air hujan. Menyusun desain masterplan yang mempertimbangkan pola aliran air alami untuk mencegah genangan.
“Lalu melakukan pengembangan infrastruktur hijau. Disini, menerapkan low-impact development (LID) yang mengutamakan infiltrasi dan retensi air hujan. Terus, membuat skema ruang hijau multifungsi yang tidak hanya sebagai estetika tetapi juga berfungsi sebagai sistem penahan banjir,” terang dia.
Berikutnya, papar Novi, restorasi ekosistem alami, berupa revitalisasi ekosistem rawa-rawa dan hutan mangrove di sekitar daerah dataran rendah. Serta, mengoptimalkan fungsi bantaran sungai sebagai area penampungan air sementara.
“Terkahir, tentu bekerja sama dengan Pemkot, akademisi, dan komunitas dalam menyusun strategi pengelolaan air yang holistik. Mengadvokasi proyek berbasis komunitas untuk penghijauan dan pengelolaan air berbasis partisipasi masyarakat,” papar dia.
Dalam mitigasi banjir Palembang, Tutur Novi, Arsitek Lanskap memiliki peran penting melalui Desain Lanskap sebagai mitigasi bencana, seperti penggunaan vegetasi yang tepat dan perencanaan tata ruang yang baik, dapat mengurangi risiko banjir.
Ada juga penataan ruang sepadan sungai, yang merupakan pendekatan arsitektural dalam penataan ruang sepadan sungai, seperti di Sungai Ciliwung, dapat menjadi referensi untuk pengendalian banjir melalui pengembangan ruang terbuka hijau dan infrastruktur penahan banjir yang ramah lingkungan.
“Kemudian, pendidikan dan kesadaran masyarakat. Disini Arsitek lanskap dapat berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya desain yang berkelanjutan dan resiliensi terhadap bencana,” tandas dia.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait