PALEMBANG, iNewspalembang.id – Wilayah perkotaan Palembang tetap menjadi sorotan terhadap tantangan akses informasi, partisipasi substantif, dan peluang ekonomi di sektor energi terbarukan yang masih belum merata bagi perempuan.
Sorotan tersebut menjadi poin penting pada Diskusi Penguatan Kelompok Perempuan dan Pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan, yang diinisiasi Yayasan Mitra Hijau (YMH), di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Selasa (3/3/2026).
Menurut koordinator Sumsel YMH, Ressy Tri Mulyani, SH, MH, perspektif gender dalam transisi energi penting untuk dibedah pada situasi saat ini. karena, Sumsel yang selama ini bertumpu pada sektor batu bara menghadapi tantangan besar dalam proses peralihan menuju energi bersih.
“Perempuan adalah pengguna energi utama di rumah tangga dan pelaku aktif UMKM. Namun, dalam banyak kebijakan energi, suara mereka belum terakomodasi secara memadai. Transisi energi yang tidak responsif gender berisiko memperkuat ketimpangan sosial dan ekonomi,” ujar dia.
“Meskipun Kota Palembang merupakan wilayah perkotaan, tantangan akses informasi, partisipasi substantif, dan peluang ekonomi di sektor energi terbarukan masih belum merata bagi perempuan,” ujar dia.
Ressy mengatakan, ada empat dimensi penting untuk mewujudkan transisi energi berkeadilan yakni, Keadilan Rekognisi, yang mengakui peran, kebutuhan, dan pengetahuan lokal perempuan dalam inisiatif energi.
Lalu, Keadilan Prosedural, yang memastikan akses informasi, partisipasi, dan manfaat energi terbarukan yang setara; Partisipasi Bermakna, mendorong keterlibatan perempuan yang substantif dalam perencanaan dan pengawasan kebijakan energi.
Kemudian, Keadilan Remedial, yang merumuskan solusi atas potensi dampak sosial-ekonomi akibat transisi energi,” kata dia.
Sementara, Advisor YMH, Prof Ir Erna Yuliwati, MT, PhD, IPU, ASEAN-Eng menyebut, soal pentingnya integrasi analisis gender dalam kebijakan energi daerah.
“Kebijakan yang terlihat netral belum tentu berdampak netral. Tanpa data terpilah gender dan ruang dialog yang aman, perempuan akan terus berada di pinggiran proses pengambilan keputusan,” ungkap dia.
Momen ini menghasilkan komitmen awal pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan (PEBE–SS) di Kota Palembang. Forum ini diharapkan menjadi ruang kolektif bagi perempuan lintas organisasi untuk belajar, berjejaring, dan mengadvokasi kebijakan energi yang lebih inklusif di tingkat daerah.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
