PALEMBANG, iNewspalembang.id – Penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau Ramadhan 2026 di Turki jatuh pada tanggal 19 Februari 2026, yang kemungkinan berbarengan dengan Indonesia.
Namun, berbeda dengan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Terkait perbedaan puasa hari pertama ini, tentu memunculkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat, apakah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) versi Muhammadiyah tidak konsisten?
Pakar Falak Muda Muhammadiyah, Najmuddin Saifullah, memberikan jawaban terhadap polemik tersebut dengan penjelasan panjang lebar dalam Lensamu Podcast di Muhammadiyah Channel, Minggu (1/2/2026) lalu.
Najmuddin menilai, bahwa KHGT justru merupakan ijtihad terbaik Muhammadiyah saat ini, karena mengintegrasikan dalil syar’i, fikih, dan astronomi modern secara sekaligus.
“KHGT ini merupakan ijtihad Muhammadiyah yang terbaik saat ini karena bisa memanfaatkan pengetahuan, kemudian landasan dalil syar’i dan hadisnya juga kuat,” ujar dia, dikutip dari laman muhammadiyah.
Najmuddin mengatakan, secara keagamaan, KHGT bertumpu pada Alquran dan hadis. Salah satunya QS at-Taubah ayat 36 tentang jumlah bulan yang dua belas, disertai frasa dzālika ad-dīnul qayyim, yang ia maknai sebagai tuntutan adanya kepastian waktu ibadah.
Tak hanya itu, Najmuddin pun mengutip hadis ‘Ash-shaumu yauma tashūmūn, wal-fithru yauma tufthirūn,’ yang artinya, puasa adalah hari ketika kalian semua berpuasa, dan Idul Fitri adalah hari ketika kalian semua ber-Idul Fitri.
Hadis ini, sambung dia, mengisyaratkan idealitas keserempakan umat Islam secara global, bukan hanya dalam satu negara atau satu rumah.
“Dari sisi fikih, KHGT menggunakan prinsip ittihād al-mathāli’, yakni menganggap bumi sebagai satu matlak (satu kawasan rukyat global). Artinya, umat Islam di seluruh dunia diupayakan memulai Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha secara bersamaan,” kata dia.
Najmuddin melanjutkan, dari sisi sains, KHGT memanfaatkan astronomi modern untuk menghitung posisi matahari dan bulan secara presisi, mulai dari tinggi hilal, elongasi, hingga waktu konjungsi (ijtima).
Alquran sendiri menyatakan ‘Asy-syamsu wal-qamaru bihusbān,’ yang artinya, matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
“Ayat ini, menjadi legitimasi kuat penggunaan hisab astronomi dalam penentuan kalender Islam,” ungkap dia.
Kemudian, terkait adanya keberatan sebagian pihak karena hilal di Indonesia pada saat itu masih berada di bawah ufuk, Najmuddin menanggapi, bahwa kondisi tersebut bersifat lokal.
“Secara global, hilal sudah lahir karena ijtima telah terjadi. Bahkan di wilayah lain seperti Arab Saudi hingga Amerika, posisi hilal sudah positif dan memungkinkan terlihat,” jelas dia.
Najmuddin menerangkan, bahwa dalam KHGT, fenomena global ini tidak bisa dibatalkan oleh kondisi lokal. Terhadap konsep ‘transfer parameter’: jika di satu wilayah dalam satu matlak global kriteria terpenuhi, maka hasil tersebut berlaku untuk wilayah lain, mirip praktik rukyat di Indonesia ketika hasil Aceh ditransfer ke daerah lain.
“Perbedaan 1 Ramadan 1447 Hijriah antara Muhammadiyah (18 Februari) dan Turki (19 Februari) bukan karena Muhammadiyah menyimpang dari KHGT Istanbul 2016, melainkan karena perbedaan penafsiran teknis terhadap parameter kalender global kedua (PKG2),” terang dia.
Menurut Najmuddin, titik krusialnya berada di Semenanjung Alaska, wilayah kecil yang secara geografis masih termasuk Benua Amerika. Muhammadiyah sendiri memasukkan wilayah tersebut sebagai bagian sah dari Benua Amerika.
Karena di titik-titik kecil Alaska itu kriteria tinggi hilal 5 derajat dan elongasi 8 derajat sudah terpenuhi, Muhammadiyah menyimpulkan PKG2 terpenuhi pada 17 Februari, sehingga 18 Februari ditetapkan sebagai 1 Ramadan.
“Sebaliknya, Turki tidak memasukkan wilayah kecil tersebut dengan alasan jumlah penduduk yang minim dan pertimbangan administratif. Menariknya, lembaga fikih Amerika Utara (FCNA) justru sejalan dengan Muhammadiyah dan juga menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026,” kata dia.
Muhammadiyah, tegas Najmuddin, justru berusaha konsisten dengan dokumen Istanbul 2016, yang menyebut Benua Amerika tanpa mengecualikan wilayah kecil.
Muhammadiyah juga menemukan adanya ketidakteraturan dalam praktik Turki, khususnya dalam penggunaan metode geosentris dan toposentris untuk menghitung tinggi hilal dan elongasi.
“Kadang Turki memakai geosentris, kadang toposentris. Ini yang terus kami dialogkan,” tegas dia.
Nah terhadap temuan-temuan itu, urai Najmuddin, telah dikomunikasikan langsung kepada otoritas Turki, dan diskusi masih terus berjalan karena KHGT memang sejak awal diakui sebagai sistem yang belum final dan terus diuji.
“KHGT tidak bersifat tertutup. Muhammadiyah membuka diri terhadap kritik dan masukan, dengan melibatkan tim lintas disiplin ulama, ahli falak, saintis, hingga pakar teknologi, yang terus menyempurnakan sistem ini,” urai dia.
“Kalau ada perbedaan, kita cari titik bedanya di mana. Apakah karena geosentris-toposentris atau karena wilayah Amerika tadi. Semua didiskusikan,” imbuh dia.
Najmuddin menuturkan, berdasarkan seluruh parameter KHGT tersebut, maka Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, dengan tarawih pertama pada malam 17 Februari 2026.
“Kami mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak ragu menjalankan keputusan itu. Penentuan awal bulan pada hakikatnya adalah penentuan waktu ibadah. Karena itu, setiap muslim dipersilakan mengikuti keyakinan yang dianggap paling benar, tanpa perlu saling menyalahkan. Kalau sudah yakin benar, jalankan saja ibadahnya. Tidak perlu menghujat yang berbeda,” tandas dia.
Editor : Sidratul Muntaha
Artikel Terkait
