3 Kasus Hantavirus Berakhir Kematian, Ahli Epidemiologi UI Ingatkan Bahaya Kontaminasi Urine Tikus
JAKARTA, iNewspalembang.id - Infeksi Hantavirus di Indonesia dalam tiga tahun terakhir tercatat ada 23 total kasus, yang 3 kasus diantaranya berakhir pada kematian.
Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut, bila berdasarkan sebaran wilayah, kasus Hantavirus paling banyak ditemukan di Pulau Jawa. Untuk DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing melaporkan 6 kasus, lalu Jawa Barat dengan 5 kasus, sedangkan Banten dan Jawa Timur masing-masing mencatat 1 kasus.
Lalu di luar Pulau Jawa, juga ditemukan di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur masing-masing melaporkan 1 kasus infeksi Hantavirus.
Tren perkembangan untuk jumlah kasus menunjukkan fluktuasi pada periode 2024 hingga 2026, dengan rincian 2024 tercatat 1 kasus, 2025 naik menjadi 17 kasus, dan 2026 sebanyak 5 kasus yang masih dalam data berjalan. Dari sisi medis, jenis Hantavirus yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Seoul Virus. Sementara, jenis Andes Virus yang sempat dikaitkan dengan wabah di luar negeri hingga saat ini belum ditemukan di Indonesia.
Seluruh pasien di Indonesia terdiagnosis mengalami Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal yang dapat memengaruhi fungsi organ ginjal secara serius. Kekhawatiran masyarakat terhadap kemunculan kasus ini turut mencuat di tengah publik.
Menurut Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, bahwa kasus Hantavirus ini bukan hal baru di Indonesia.
“Kalau kita amati dari tahun ke tahun selalu ada. Jadi kasus itu, kasus virus Hanta itu ada di Indonesia lama, itu kan bukan virus baru,” ujar dia kepada iNews, Jumat (8/5/2026).
Penularan virus ini, terang Pandu, berasal dari hewan pengerat atau tikus yang kerap berada di lingkungan manusia. Kontaminasi dapat terjadi melalui kotoran atau urine tikus yang mengenai barang, makanan, hingga terhirup dalam bentuk debu.
“Umumnya itu masih ditularkan dari Rodent atau tikus. Itu media kencingnya atau tai-nya mengkontaminasi barang-barang di tempat kita hidup atau makanan kita, kita megang, kita hirup debunya,” terang dia.
Pandu mengingatkan, bahwa kelompok rentan lebih berisiko mengalami dampak yang lebih berat. Kelompok tersebut di antaranya penderita penyakit kronis hingga lansia.
“Kalau ada orang yang memang kondisinya nggak sehat, punya penyakit jantung, punya penyakit diabetes atau lansia itu akan rentan sekali terkena penyakit flu apapun termasuk flu Hanta ini,” kata dia, seraya menyebut gejala Hantavirus umumnya dapat pulih dengan pengobatan sesuai kondisi pasien.
“Kalau orang itu nggak cukup bagus imunitasnya, kemungkinan dia akan mengalami gejala seperti flu, gitu. Tapi pada umumnya sih nggak berat, jadi bisa sembuh sendiri,” urai dia.
Sementara terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menyampaikan, pihaknya telah mengonfirmasi adanya dua suspek Hantavirus di Indonesia yang ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta. Namun, kedua pasien tersebut kini telah dinyatakan sembuh.
“Benar ada dua suspek,” kata Aji saat dikonfirmasi oleh iNews Media Group melalui aplikasi percakapan, Jumat (8/5/2026).
“Tapi hari ini saya dapat info keduanya sudah negatif dan sembuh,” tandas dia.
Editor : Sidratul Muntaha