Pesan Menyentuh dr Gia Pratama: dr Myta Bukan Mesin Jaga, Mereka Manusia, Punya Batas!
Lebih lanjut, ia menyampaikan beberapa pesan mendalam bagi para dokter internship yang masih bertugas hingga saat ini. Ia berpesan agar tetap menjaga kesehatan meski status mereka adalah mengabdi sebagai dokter muda.
“Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga,” kata dia.
dr. Gia juga mengingatkan bahwa dokter internship bukanlah mesin jaga atau tenaga kerja yang bisa dibayar murah. Para dokter internship merupakan para dokter muda yang sedang mengabdi serta punya batasan kapasitas.
“Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga. dokter muda yang sedang belajar mengabdi tapi sekaligus manusia yang punya batas,” tutur dr. Gia.
Menurutnya, para dokter internship tetap berhak mendapat jam kerja yang layak dan manusiawi, lingkungan yang aman dan nyaman dan hak medis saat kondisi sakit.
“Jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, lingkungan kerja yang aman, dan penanganan medis saat sakit, semua itu hak dasar,” beber dia.
Meski tengah mengabdi, namun kondisi ke sehat tetap harus diutamakan. Apalagi sanpai mengabaikannya hingga semakin memburuk.
“Pengabdian tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan,” cetus dr. Gia.
Ia berharap, kasus yang menimpa dr. Myta buka hanya ramai sesaat kemudian hilang teralihkan isu lainnya. Menurutnya, kasus tersebut harus bisa menjadi evaluasi dan penggerak perubahan sistem bagi dokter internship kedepannya.
“Semoga kepergian dr. Myta menjadi duka yang menggerakkan. Bukan kabar yang ramai sehari, lalu hilang ditelan lini masa. Selamat jalan, dr. Myta Aprilia Azmi. Al-Fatihah,” kata dia.
Dalam takarir (caption) ungahannnya, ia menuliskan bahwa memang banya hal yang perlu diperbaiki agar kejadian serupa yang menimpa dr. Myta tidak terulang kembali.
“Banyak yang perlu diperbaiki agar tidak terulang,” pungkas dr. Gia.
Sebelumnya, dr. Myta Aprilia dikabarkan mengembuskan napas terakhir usai menjalani perawatan intensif di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang, Jumat (1/5/2026).
Meninggalnya dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi itu langsung mendadak viral dan memicu perhatian publik karena diduga almarhumah tetap bertugas meski dalam kondisi sakit.
Bahkan, almarhumah sudah mengeluh sakit sejak Maret 2026 dan sempat kritis namun masih tetap dipaksa menjalankan tugas jaga malam dengan kondisi sesak nafas berat dan demam tinggi.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar